Dealing With Generation Gap

07-generation-gap

Sebuah fenomena unik yang terjadi di dunia korporasi atau bahkan dunia sosial saat ini adalah kesenjangan generasi. Dalam hitungan belasan tahun sejak masuk dalam milenium masehi, perusahaan-perusahaan besar dunia harus menghadapi tantangan yaitu bertemunya tiga atau bahkan empat generasi karyawan dibawah satu atap perusahaan. Seringkali tantangan terbesar perusahaan multi-generasi ini adalah bagaimana agar setiap generasi mampu menghalau bias atau simpangan cara pandang dan bekerja bersama dalam mencapai satu tujuan perusahaan.

GAP GENERATION IN WORKPLACE

Setidaknya ada empat generasi yang saat ini bekerja dalam sebuah perusahaan, yaitu: Generasi Baby Boomer (1946-1967), Generasi X (1968-1980), Generasi Millenial (1981-1994) dan Generasi Z (1995-2010). Setiap generasi memiliki keunikannya masing-masing yang didasari oleh values (nilai-nilai) yang mengasah pengalaman hidupnya. Ada dua hal yang membuat “gap generation” itu terjadi, yaitu arus perubahan atau modernisasi dan perkembangan teknologi.

Modernisasi telah membuat orang mencoba untuk berbeda dengan yang sebelumnya, baik dalam mengaktualisasi dirinya, cara mendapatkan materi dan cara pandang melihat sebuah perubahan. Orang-orang yang fleksibel dalam mengikuti perubahan dianggap sebagai orang modern, demikian pula orang yang pintar mengaktualisasi dirinya mengikuti selera yang berkembang saat ini dianggap sebagai orang yang up to date.

Generasi baby boomers (1948–1963) adalah generasi dari hasil didikan keras generasi traditionalist, tidak jarang generasi baby boomers merupakan orang-orang yang optimis, idealis dan berani. Kemudian, generasi yang paling cepat mandiri dan independen, generasi yang saat ini paling banyak menduduki kursi di manajemen perusahaan yaitu Generasi X (1964 – 1979). Banyak sekali kreativitas dan inovasi yang berkembang di era generasi X sehingga membuat perubahan yang cukup berpengaruh dalam kehidupan sosial dan dunia korporasi. Generasi millennial (1981-1994) atau yang juga dikenal dengan istilah the young generation atau generasi Y bertumbuh menjadi para pengguna teknologi modern karena didukung dari perkembangan teknologi yang semakin pesat. The young generation adalah generasi yang saat ini banyak memenuhi kursi-kursi dikantor sebagai team player. Sebagian orang mungkin merasa “kewalahan” dengan perilaku generasi Y di tempat kerja karena mereka sering mengandalkan multitasking dengan teknologi untuk mendukung pekerjaannya. The last but not least adalah generasi Z (1995-2010) atau internet generation adalah generasi yang lahir pada abad digital. The native gadget atau internet generation menganggap bahwa perangkat komunikasi merupakan bagian integral dari kehidupannya karena hampir semua aktivitas yang mereka lakukan berbasiskan digital atau internet. Generasi ini memiliki karakteristik sebagai orang yang opportunistic dan omnivorous yang menikmati segala sesuatu dalam lingkungan yang serba online atau serba instant, menyukai kolaborasi dari satu orang ke orang lain, multi-tasking, dan menyukai segala sesuatu yang bersifat interaktif.  

BUILDING A BRIDGE ACROSS THE GENERATIONS

Kecepatan arus modernisasi dapat memperlihatkan perilaku orang-orang yang dilahirkan dari setiap generasi terlihat berbeda. Teknologi pada era tahun 1980-an sejak ditemukannya komputer dan internet masih berkembang secara cepat hingga sekarang, yang kemudian ditambah dengan begitu mudahnya orang mengakses informasi melalui perangkat-perangkat teknologi seperti:  smartphone, tab, laptop dan lain-lain membuat sikap dan perilaku orang-orang yang dilahirkan dari setiap periode waktu dapat terlihat berbeda satu dengan lainnya.

Akibatnya orang-orang mulai kebingungan ketika hadapkan masalah-masalah terkait integritas, loyalitas dan kejujuran. Banyak perusahaan mulai “berantakan” dalam mengatur sumber daya manusia-nya, turn over karyawan semakin tinggi, pencurian data dan alih generasi sudah semakin sulit. Model kepemimpinan tidak lagi mengacu kepada moral integritas dan loyalitas serta kejujuran.  Semua diabaikan demi “pembenaran” diri sendiri dalam menyikapi sebuah kesalahan yang terjadi dari salah satu atau kedua generasi.

Mengenali karakter atau sifat masing-masing generasi mungkin menjadi salah satu cara untuk menjembatani persoalan generation gap ini. Terlepas dari benar tidaknya karakter yang melekat pada sebuah generasi, komunikasi yang baik menuntut keterbukan dan diawali oleh ketulusan dari kedua pihak yang akan berkomunikasi dapat meminimalisir perbedaan penilaian dan pandangan pada kedua generasi.

Perubahan tidak dapat dihindari karena perubahan adalah sebuah keniscayaan, terlebih perubahan dalam hal generasi di perusahaan yang akan membawa dampak pada pergeseran kebiasaan dan perubahan kebudayaan. Hampir semua perusahaan sedang mengalami perubahan tersebut. Adanya kebijakan yang berkaitan dengan nilai atau budaya perusahaan dan emotional question setiap karyawan yang baik dapat membuat perubahan ini menjadi indah dan bermakna.

(Denada Tirta Amertha, S.Pd)

Kata kunci : generation gap, teknologi, modernisasi, karakter generasi, budaya, komunikasi, model kepemimpinan