Eksistensi Perempuan Dengan Beban Ganda (Women Of Double Burden) Dalam Dunia Kerja Toxic Feminity Or Empowerment ?

Photo by: Unsplash.com @standsome

Maret 2020 merupakan hari bersejarah dimana negara Indonesia mengumumkan atas konfirmasi kasus pertama positif infeksi virus corona yang disebabkan oleh covid-19. Semenjak itu, berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah guna menanggulangi penyebaran virus corona yang kian meningkat setiap harinya dan meredam atas dampak yang terjadi oleh penyebaran virus tersebut di berbagai sektor. Hampir seluruh sektor atau bidang terdampak atas kondisi tersebut. Tak hanya pada sektor kesehatan, melainkan sektor pendidikan, sosial, hingga ranah sektor ekonomi yang memiliki dampak serius atas kondisi tersebut. Kegiatan pembatasan sosial dan aktivitas manusia yang terjadi di hampir seluruh Indonesia sehingga menyebabkan pengaruh atas kegiatan bisnis yang secara tidak langsung juga berdampak pada perekonomian negara Indonesia. Kondisi ini digambarkan pada sebuah data laporan Badan Pusat Statistik (BPS) per bulan Agustus tahun 2020 menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II tahun 2020 minus 5,32 persen. Sebelumnya, pada kuartal I tahun 2020, BPS melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya tumbuh sebesar 2,97 persen, turun jauh dari pertumbuhan sebesar 5,02 persen pada periode yang sama 2019 lalu. Pertumbuhan ekonomi yang minus di Indonesia menyebabkan terjadinya krisis ekonomi pada kalangan masyarakat, tak terkecuali pada lingkungan terkecil seperti lingkungan keluarga. Kondisi ini secara tidak langsung memiliki dampak pada merosotnya pendapatan keluarga yang semula stabil menjadi kian tidak stabil bahkan diambang batas krisis secara finansial. Hal ini menjadi dasar atas dinamika pergeseran nilai, sosial dan budaya yang terjadi di lingkungan masyakat dimana ketimpangan antara financial keluarga yang kian merosot diiringi dengan kebutuhan keluarga yang tinggi.

Pergeseran nilai, sosial dan budaya tersebut memaksa bagi kaum perempuan untuk turut serta dan andil dalam membantu perekonomian keluarga. Seorang isteri yang ikut serta bekerja untuk menopang financial rumah tangganya merupakan perempuan dengan beban ganda (Women Of Double Burden). Adapun secara definisi, perempuan dengan beban ganda (Women Of Double Burden) diartikan sebagai perempuan yang memiliki dua peran ganda dimana beban atas pekerjaan yang diterima olehnya lebih banyak dibandingkan atas peran yang dimainkan dari seorang laki-laki. Terlebih lagi atas kondisi pandemik Covid-19, yang dimana kultur dan keadaan mendesak yang memaksa mereka tak hanya berperan sebagai seorang ibu rumah tangga (Domestik-Reproduktif) melainkan juga berperan sebagai seorang pekerja (Publik-Produktif). Perempuan memiliki peran dalam pembangunan nasional. Adapun peran-peran perempuan dalam pembangunan nasional meliputi peran reproduktif, produktif, dan sosial. Peran reproduktif yang dimiliki oleh perempuan diartikan sebagai fungsi perempuan yang dapat hamil, melahirkan, menyusui, dan merawat anak dalam keluarga. Fungsi atau peran reproduksi yang melekat pada seorang perempuan seringkali dianggap sebagai peran yang permanen dan statis. Selanjutnya,  perempuan memiliki peran produktif. Peran produktif yang dimiliki perempuan diartikan sebagai fungsi perempuan dari berbagai profesi yang menghasilkan melalui melakukan karya-karya produktif. Pada peran ini, peran produktif yang melekat pada seorang perempuan dianggap sebagai peran yang temporary dan dinamis. Fungsi peran perempuan lainnya adalah peran sosial. Peran sosial yang dimiliki oleh perempuan diartikan sebagai peran perempuan yang banyak dilakukan dalam membantu masyarakat.

Meningkatnya jumlah populasi perempuan yang bekerja pada lingkup publik tak diiringi atas berkurangnya beban yang diberikan oleh mereka pada lingkup domistik (rumah tangga). Upaya maksimal yang mereka lakukan adalah mensubstitusikan pekerjaan tersebut kepada perempuan lain, seperti asisten rumah tangga atau anggota keluarga perempuan lainnya. Namun demikian, tanggung jawabnya masih tetap berada di pundak perempuan. Akibatnya mereka mengalami beban yang berlipat ganda. Perempuan dengan beban ganda (Women Of Double Burden) saat ini Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), terjadi pertumbuhan jumlah tenaga kerja perempuan dari 2018 ke 2019. Pada 2018, tercatat 47,95 juta orang perempuan yang bekerja. Jumlahnya meningkat setahun setelahnya menjadi 48,75 juta orang Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) naik tipis di Agustus 2020. Namun, menurut jenis kelamin, TPAK wanita malah bertambah. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, TPAK naik 0,24% menjadi 67,77%. Besaran tersebut dibandingkan periode Agustus 2019 yang sebesar 67,53% TPAK Perempuan meningkat 1,32% ke 53,13%. Namun, TPAK laki-laki mengalami penurunan 0,84% menjadi 82,41%. Artinya di tengah Covid-19 ini para perempuan tadinya tidak bekerja dan bukan angkatan kerja, sekarang masuk ke dunia kerja.

Perempuan dengan beban ganda (Women Of Double Burden) yang saat ini hampir tersebar di seluruh penjuru negeri, bekerja baik pada sektor formal maupun pada sektor informal. Perempuan yang bekerja pada sektor formal dimaknai sebagai perempuan yang bekerja dengan mendapatkan status berusaha dengan dibantu buruh tetap/buruh dibayar dan status buruh/karyawan/pegawai. Sedangkan perempuan yang bekerja pada sektor informal dimaknai sebagai perempuan yang bekerja dengan mendapatkan status berusaha bekerja secara mandiri, berusaha dengan dibantu buruh tidak tetap/buruh tidak dibayar, pekerja bebas, dan pekerja keluarga. Biasanya, pekerja perempuan yang berecimprung pada sektor informal adalah pekerja yang berusaha pada usaha milik keluarga atau secara pribadi, usahanya berskala mikro ataupun berbentuk UMKM, sering dibantu oleh buruh tidak tetap atau pekerja yang memiliki hubungan keluarga, serta tidak diatur melalui mekanisme pasar yang kompetitif layaknya sebuah perusahaan.

Perempuan dengan beban ganda (Women Of Double Burden) memiliki dua perspektif yang berkembang pada lingkungan masyarakat. Perspektif yang pertama bahwa perempuan yang bekerja dianggap menyimpang dan tidak sesuai terhadap peran dan kodrat yang seharusnya. Anggapan ini hanya mendefinisikan perempuan memiliki peran domistik saja, yakni peran perempuan yang tidak perlu bekerja di luar rumah melainkan hanya bekerja di rumah saja. Perempuan hanyalah memiliki tugas untuk memasak, mencuci, mengurus anak, melayani suami, dan melakukan kegiatan rumah tangga lainnya. Pandangan seperti ini sering sekali terdefinisikan pada masyarakat penganut sistem patriarki. Dalam sistem patriarki, definisi seorang perempuan sejati harus bisa bersolek, bersikap lemah lembut, dan bisa melahirkan anak keturunan. Menyadari ataupun tidak, bahwa anggapan normal tentang hal tersebut yang harus dimiliki dan dilakukan oleh perempuan itu bisa berujung buruk bagi kaum perempuan, atau biasa disebut toxic femininity. Sehingga, kamu sebagai kaum perempuan tidak bisa berkembang dan menekuni passion-mu. Pada perspektif ini, perempuan tidaklah bisa memerdekakan dirinya untuk mendapatkan peran aktif untuk mengejar cita – cita setinggi langit. Pada pandangan ini, sangat menentang sekali adanya kesetaraan gender sehingga menyebabkan sulitnya kaum perempuan untuk dapat diterima dalam berbagai sisi kehidupan.

Perspektif lain menyebutkan bahwa hadirnya peran perempuan dalam dunia kerja ditandai dengan eksistensi perempuan yang bekerja pada ranah sektor formal maupun informal. Pada perspektif ini, dimaknai bahwa dalam dunia kerja (Workplace), perempuan diberikan kesempatan yang baik disamping dalam hal membantu keluarga untuk memperbaiki ekonomi dan finansial keluarganya, tetapi juga diberikan kesempatan untuk dapat mengeksplor segala potensi dan bakat serta kemampuan diri yang dimilikinya untuk bisa berkontribusi dalam ranah dunia kerja. Hadirnya perempuan dalam kegiatan berbisnis dan ekonomi dimaknai bahwa realitanya, perempuan merupakan aset dalam pembangunan negeri yang produktif. Pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat dapat mempengaruhi pada pertumbuhan industri yang kemudian akan banyak sekali menimbulkan peluang bagi pekerja laki-laki dan pekerja perempuan. Dengan perubahan tersebut, dunia kerja tidak lagi didominasi oleh pekerja laki-laki saja melainkan pekerja perempuan juga turut berpartisipasi dan memiliki kontribusi yang berarti. Perempuan di dalam dunia kerja perlu didukung oleh pemerintah dan masyarakat agar terciptanya lingkungan kerja yang berkonsep kesetaraan gender.

Perspektif terhadap perempuan dengan beban ganda (Women Of Double Burden) yang bekerja yang saat ini berkembang pada masyarakat seharusnya tidak mendiskreditkan posisi dan peran wanita, melainkan perlu adanya bentuk dukungan secara spiritual dan emosional. Pada kondisi pandemik saat ini, berbicara mengenai spirit dan perjuangan seorang perempuan sudah tidak lagi berfokus pada perspektif secara dikotomik antara menjalankan salah satu peran saja baik domestik ataupun publik, melainkan kedua peran tersebut dapat dijalankan dengan baik secara beriringan penuh tanggungjawab dan tidak dipandang lagi sebagai dua sisi yang terpisah. Kedua peran tersebut dapat berjalan secara beriringan dan berdampingan dengan dukungan dari orang-orang sekitar seperti keluarga, anak, suami, teman dan kerabat dekat hingga lingkungan kerja. Peran perempuan yang bekerja saat ini sudah tidak lagi dipandang sebelah mata, dengan beban ganda yang dihadapinya saat ini, perempuan perlu dikuatkan dan saling berbagi pengertian dengan satu sama lainnya sehingga kedepannya peran ganda pada perempuan dapat dilalui dengan dengan ringan dan penuh semangat.

(Apriliani Widiyanti – Divisi Man Power Supply)