Membangun Karakter Melalui Bimbingan Konseling

01-membangun-karakter-copy

Pembangunan suatu bangsa tidak dapat dipisahkan dari pembangunan karakter sumber daya manusia yang dimiliki. Kemajuan teknologi dan informasi yang pesat perlu diimbangi dengan generasi muda yang dibekali kebiasaan-kebiasaan positif dalam mempersiapkan diri secara matang untuk memasuki dunia kerja. Salah satu sarana terbaik untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas unggul dan berkarakter positif adalah melalui pendidikan.

Pelaksanaan pendidikan pada semua jenjang mulai dari tingkat PAUD sampai dengan pendidikan tinggi serta pendidikan karakter di lingkungan keluarga, diharapkan mampu membantu peserta didik dalam mengembangkan diri dan membangun persepsi positif untuk meraih cita-cita yang diinginkan.

Tingginya tingkat pendidikan dan keterampilan peserta didik, tidak cukup untuk menuntaskan masalah pengangguran jika pilihan pendidikan yang diambil oleh peserta didik tidak sejalan dengan kebutuhan pasar kerja. Terjadi kesenjangan di generasi muda Indonesia menyebabkan lebih dari seperempat generasi muda Indonesia belum memiliki pekerjaan dan sebagian lain banyak yang bekerja tidak sesuai dengan keterampilan yang dimiliki. Disisi lain terdapat generasi muda yang memiliki kualitas terbaik untuk memasuki pasar kerja Indonesia. Salah satu upaya untuk menjembatani kesenjangan tersebut adalah dengan melakukan upaya pencegaha dini dengan memberikan dukungan penuh kepada peserta didik oleh sekolah maupun lingkungan keluarga ketika mereka akan mengambil keputusan sulit mengenai sekolah apa yang akan mereka ikuti atau karir pekerjaan apa yang harus mereka ambil.

Bimbingan dan konseling sebagai bagian integral dari sistem pendidikan memiliki peran penting dalam membantu peserta didik untuk mengoptimalkan perkembangan diri mereka, termasuk dukungan kepada peserta didik untuk membuat pilihan yang terkait dengan jenjang pendidikan lanjutan maupun pekerjaan yang akan dipilih. Mayoritas sekolah masih memfokuskan kemampuan peserta didik pada mata pelajaran untuk ujian nasional serta masih kurang maksimalnya peran konselor di sekolah untuk menghubungkan sekolah dengan dunia kerja, sehingga berpotensi tinggi terjadinya kesalahan peserta didik dalam memilih jenjang pendidikan lanjutan maupun karir pekerjaan yang tidak sesuai dengan potensi minat dan bakat yang dimiliki.

(Denada Tirta Amertha, S.Pd)

Kata kunci : pendidikan Karakter, pembangunan karakter, bimbingan karir, generasi muda, pengembangan diri