PTC Berkontribusi Ciptakan Kesadaran Anti Merokok Sejak Dini

rokok

YOGYAKARTA – Merokok merupakan faktor resiko dari berbagai masalah kesehatan yang dapat memicu kematian. Data WHO 2014 menunjukkan bahwa kurang lebih 6 juta kematian pertahun disebabkan oleh kebiasaan merokok dan 600.000 diantaranya diakibatkan karena terpapar asap rokok tidak langsung (perokok pasif). Indonesia menjadi negara dengan jumlah perokok terbesar ketiga didunia setelah China dan India, ketiga negara tersebut memiliki 2/3 jumlah perokok dunia.

Untuk mengatasi masalah sosial tersebut, maka PTC melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) menggandeng Quit Tobacco Indonesia Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, dan Yayasan Kanker Indonesia Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan  kegiatan seminar Pengendalian Merokok dan Pelatihan Konselor Berhenti Merokok.

Acara ini dihadiri oleh Direktur Utama PTC Taryono dan Direktur Operasi & Pemasaran A.M Unggul Putranto serta turut dihadiri oleh 130 peserta yang terdiri dari kader, relawan kesehatan, masyarakat umum, dan relawan Yayasan Kanker Indonesia Cabang Yogyakarta.

Hadir sebagai narasumber yaitu Dr. Bambang Sigit Rianto, SpPD-KP FINASIM dan dr. Wika Hartanti, MIH yang memaparkan materi tentang dampak rokok terhadap penyakit paru, pernafasan, dan kanker. Serta dihadiri pula oleh narasumber Dra. Yayi Suryo Prabandari, M.Si, PhD yang memberikan informasi terkini tentang masalah rokok serta pengendaliannya.

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan informasi kepada masyarakat umum mengenai bahaya merokok dan mencetak para relawan untuk mampu memberikan konseling bagi para perokok yang mengalami kesulitan untuk berhenti dari kebiasaan merokok. Pada akhir sesi seminar, para peserta diminta untuk melakukan uji coba konseling berhenti merokok dengan didampingi para fasilitator dari Quit Tobacco Indonesia, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.

Dengan kegiatan ini, diharapkan para kader dan relawan dapat memberikan bantuan bagi perokok yang ingin berhenti merokok serta mampu meminimalisir jumlah perokok di dunia, khususnya di Indonesia.